Stop Bullying!

Stop Bullying! Slogan tersebut tentunya tidak asing lagi bagi kita ya Scrummia. Akhir – Akhir ini berita mengenai bullying pada anak kembali marak. Lebih mirisnya lagi, salah satu pemberitaan menyebutkan bahwa bullying dilakukan oleh sekelompok siswi SMA pada siswi SMP.

Bullying tidak boleh dianggap remeh Scrummia, karena mulai dari lontaran ejekan hingga siksaan fisik, dapat memberikan trauma pada korban. Jika tidak segera ditangani  dengan tepat dan serius, tindakan bullying yang berulang dapat menyebabkan korban melakukan hal yang serupa di kemudian hari.  Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman atau pemaksaan untuk menyalahgunakan, mengintimidasi, atau secara agresif mendominasi orang lain. Perilaku itu sering diulang dan menjadi kebiasaan. Salah satu faktor penting yang mendukung perilaku tersebut adalah persepsi, baik yang dimiliki oleh pelaku (bullying) maupun orang lain, tentang ketidakseimbangan kekuatan sosial atau fisik, antara pelaku dan korbannya. Perilaku yang digunakan untuk menyatakan tindakan mendominasi tersebut dapat berupa pelecehan atau ancaman verbal, serangan fisik atau pemaksaan, yang mana tindakan tersebut dapat dilakukan berulang kali pada korban. Alasan perilaku semacam itu meliputi banyak hal, antara lain mencakup perbedaan kelas sosial, ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, penampilan, bahasa tubuh, kepribadian, reputasi, garis keturunan, kekuatan, ukuran, atau kemampuan. Bahkan lebih miris lagi hanya masalah percintaan bisa menjadi tindakan bullying.

Mulai sekarang ajarkan anak untuk “Melawan”. Melawan disini bukan berarti harus membalas dengan tindakan yang tidak terpuji juga, akan tetapi berhak membela diri saat di bully. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan melaporkan tindakan tidak terpuji tersebut kepada Guru atau orang tua. Berteriak meminta tolong saat akan menghadapi tindak kekerasan adalah pilihan lain yang bisa dilakukan.

Pendampingan terus menerus perlu dilakukan pada anak korban bullying. Kita harus peka terhadap kondisi psikologis anak. Singkat cerita di Koran Kota Bandung pernah memberitakan ada anak korban bullying yang akhirnya depresi dan memilih bunuh diri. Hal tersebut dilakukan karena ia tidak mendapat dukungan moril dari keluarga. Ia “dipaksa” untuk melawan temannya yang melakukan bully sementara disisi lain ia tidak siap.

Dalam hal ini orang tua juga harus lebih bijak. Mulai melakukan pendekatan kepada anak, kerjasama dengan pihak sekolah tentu sangat diperlukan untuk menghindari depresi. Cyberbullying juga bisa menjadi tindakan yang memicu korban melakukan bunuh diri. Ajari anak untuk memilah hal – hal yang layak ditulis di akun media sosialnya. Siapkan mental anak bahwa tidak semua orang suka padanya, dan ajari anak untuk mengabaikan komen negative jika dirinya benar.

Mulai dari orang terdekat yuk Scrummia! Kita untuk mengingatkan mereka agar selalu berani melawan jika benar dan jangan takut! Stop Bullying Mulai Sekarang!

Sumber : https://news.detik.com/kolom/d-3572837/stop-bullying-pendidikan-karakter-dan-sekolah-gratis

https://www.kompasiana.com/rudywiryadi12/596483a57a7ea5463246b222/stop-bullying?page=all

Writer : Deva Bunga Madarayu